Category Archives: KIMIA ANORGANIK

IKATAN KIMIA

Istilah ikatan kimia mengacu pada bergabungnya atom-atom yang bersangkutan dalam membentuk senyawa. Pembentukan ikatan ini,umumnya diarahkan pada pembentukan konfigurasi elektron yang stabil. Untuk ukuran kestabilan suatu unsur digunakan unsur mulia sebagai parameter. Karena gas mulia mempunyai sifat yang sukar bergabung dengan unsur lain. Sifat kestabilan gas mulia tercermin dari harga ionisasinya yang sangat tinggidan afinitas elektronnya yang sangat rendah.

Dibandingkan dengan konfigurasi elektronik unsur-unsur gas mulia,unsur-unsur golongan utama hanya berbeda dalam hal banyaknya elektron valensi saja. Oleh karena itu,ide terbentuknya senyawa hanya dipengaruhi oleh elektron valensi saja.

Secara ekstrem ada dua cara untuk memenuhi terbentuknya konfigurasi elektronik gas mulia yaitu,

  1. Dengan cara serah terima atau transfer elektron valensi
  2. Dengan cara pemilikan bersama pasangan elektron sekutu dari elektron valensi atom-atom penyusunnya.

Cara pertama menghasilkan ion positif yaitu kation bagi atom yang melepaskan elektron,dan ion negatif yaitu anion bagi atom yang menerima elektron. Dengan demikian, ikatan yang terjadi adalah ikatan ionik yang berupa gaya-gaya elektrostatik. Cara kedua menghasilkan ikatan kovalen yang berupa pasangan –pasangan elektron sekutu yang menjadi milik bersama antara atom-atom yang terlibat.

  1. Ikatan Ionik

Ikatan ionik secara sederhana adalah ikatan antara dua macam ion yakni kation dan anion oleh gaya-gaya elktrostatik Coulomb. Oleh karena ikatan ionik terjadi dengan cara transfer elektron,maka dapat diramalkan bahwa unsur –unsur golongan alkali dan alkali tanah dengan karakteristik ns (1-2) mempunyai kecendrungan yang cukup kuat untuk membentuk ikatan ionikdengan unsur-unsur golongan halogen dan oksigen dengan karakteristik ns2 np(4-5) .kenyataannya ditemui berbagai tipe ion dengan konfigurasi elektron tertentu.

Spesi tanpa elektron valensi

Ion Hidrogen H+ ,barangkali dapat dipandang sebagai satu-satunya spesies tanpa elektron valensi,meskipun eksistensinya distabilkan dalam bentuk tersolvasi oleh pelarut,yaitu sebagai ion hidronium H3O+ ,dalam air.

Spesi dengan dua elektron valensi

Beberapa spesies yang cukup stabil dengan dua elektron valensi adalah ion hidrida,H,Li+,Be2+. Ion-ion ini mengadopsi konfigurasi elektronik gas mulia He.

Spesi dengan delapan elektron valensi

Senyawa  NaF,Na2O,MgF2,MgO merupakan contoh spesies ionik dengan mengadopsi konfigurasi elektron valensi gas mulia terdekat,Ne.

Spesies dengan delapan belas elektron valensi

Konfigurasi 18 elektron terluar ini hanya dapat dicapai dengan cara pelepasan elektro,dan tidak pernah tercapai dengan cara penangkapan elektron dan oleh karena itu spesies ini hanya ditemui dalam bentuk kation. Spesies ini banyak ditemui dari senyawa-senyawa golongan d,yaitu golongan 11,12,bahkan juga golongan 13 mulai perioda 4.  Contohnya Cu+,Ag+,Au+.

Spesies dengan delapan belas +dua elektron valensi

Umumnya terdiri dari unsur berat. Kestabilan sistem ini sering pula dikaitkan dengan kenyataan penuhnya semua orbital yang terisi,yang secara khusus dikenal dengan sistem konfigrasi elektronik “18 + 2”  atau dengan istilah spesies dengan pasangan inert. Peran pasangan elektron inert terhadap kestabilan ion dalam golongan ternyata semakin kuat dengan naiknya nomor atom. Contohnya adalah As,Sb,TI.

Spesies dengan berbagai macam elektron valensi

Ion-ion tipe ini banyak dijumpai dari golongan d dan f yang mempunyai konfigurasi elektron belum penuh. Umumnya elektron ini mempunyai konfigurasi elektron terluar 8-18. Tambahan pula,unsur-unsur golongan transisi dikenal dapat membentuk kation dengan berbagai tingkat oksidasi. Kesatabilan ion-ion transisi dan transisi dalam umumnya berkaitan dengan dengan pembentukan senyawa kompleks.

Secara umum dapat diramalkan bahwa tingkat kemudahan pembentukan suatu ion dipengaruhi oleh tiga faktor utama,yaitu:

Read the rest of this entry

Iklan