Category Archives: Kewirausahaan

Usaha Sepatu Yang Gagal

Ibu Santi adalah seorang wirausahawan yang gagal dalam berbisnis. Beliau berbisnis di bidang penjualan sepatu olah raga pada tahun 2007.  Beliau mendapatkan barang – barang dagangannya dari Balaraja, Tangerang. Karena disana terdapat pabrik sepatu yang akan di eksport keluar negeri.  Dan biasanya disana terdapat barang – barang sisa export yang kemudian di beli oleh ibu Santi, kemudian beliau jual kembali sepatu – sepatu tersebut ke tetangga dan teman – temannya di daerah tempat ia tinggal, tepatnya di Cilegon. Awalnya bisnisnya berjalan lancar – lancar saja dengan keuntungan yang dapat melebihi modal awal yang beliau keluarkan bahkan lebih. Lambat laun usahanya mulai sukses dan banyak yang memesan barang dagangannya karena stock barang yang beliau jual sudah habis dan karena mereka ingin model yang lebih baru. Ibu Santi memberikan keringanan kepada pembeli dalam hal pembayaran berupa cicilan maksimal 3 kali pembayaran, dan para pembeli pun merasa tidak terlalu mengeluarkan uang yang lebih banyak.

Read the rest of this entry

Iklan

Kisah Sukses Pengusaha Edam Burger

Dia merupakan orang yang patut dicontoh, karena dia merupakan orang yang percaya akan mimpi dan harapan, tentunya disertai dengan kerja keras. Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak. Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang keras di Jakarta.
Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.
Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made bercerita.
Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.
Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.
Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.
Read the rest of this entry

Pak Nana

Sejak kecil Pak Nana sudah berkecimpung di dunia usaha. Ayahnya membuka usaha kecil-kecilan pembuatan kerupuk sangray di rumahnya. Ketika itu Pak Nana sering membantu usaha ayahnya baik dalam pembuatan maupun dalam pendistribusiannya. Hingga pada akhirnya, usaha kerupuk sangray milik ayahnya itu berkembang dan bias bertahan hingga sekarang.

Melihat usaha ayahnya berhasil, Pak Nana beserta istrinya mencoba untuk membuka usaha sendiri namun bukan usaha yang sama dengan ayahnya. Ia mencoba dengan membua usaha pengolahan singkong menjadi berbagai macam makanan ringan seperti keripik, cempring, dll. Pengolahan singkongnya ia lakukan sendiri bersama istri dan anak-anaknya. Sisa pengolahan singkong yang tidak diproduksi seperti kulit singkong, dia jual kembali ke pengumpul kulit singkong.

Pak Nana memberi nama usahanya itu dengan label ‘Manihot’. Dengan adanya label itu membuat usaha pengolahan singkongnya berkembang pesat, banyak pesanan dari luar daerah dan ia pun terkadang sering menerima pesanan dari berbagai kota di Jawa Barat. Ketika usahanya telah berkembang, Pak Nana tidak hanya bekerja sendiri, ia mulai merekrut beberapa pegawai untuk membantu usahanya.
Read the rest of this entry

Pengusaha ayam sayur

Pak Tri ( samaran) adalah seorang pengusaha peternak ayam sayur, Ia  mulai membuka usaha dibelakang rumahnya yang terletak pucang, banjarnegara ( jawa tengah). Seiring dengan waktu usaha yang dijalaninya meraih pencapaian yang cukup  tinggi hingga usahanya merambah ketempat yang lain, salah satunya yaitu bandingan, banjarnegara. Akan tetapi, pencapaian tersebut tak bisa Ia rasakan sepenuhnya karena Ia telah terpanggil  terlebih dahulu oleh Tuhan Yang Maha Esa. Pada akhirnya usaha ini diteruskan oleh putranya yang bernama Idin( nama samaran ) , akan tetapi usaha yang dijalaninya tersebut tak semulus dengan apa yang dicapai oleh bapaknya. Hal ini disebabkan karena banyaknya ternak ayam yang mati, selain itu proses perlakuan terhadap lingkungannya kurang diperhatikan dan menyebabkan bau yang menyengat dan  banyak timbulnya lalat yang mengkerumuni kotoran ternak tersebut.
Read the rest of this entry

HOWARD SCHULTZ, KISAH SECANGKIR KOPI YANG MENDUNIA.

PROFIL HOWARD SCHULTZ

Apa yang akan Anda lakukan jika ide Anda ditolak dan dilecehkan. Bahkan dianggap gila oleh 217 orang dari 242 yang diajak bicara?. Menyerah?. Atau malah makin bergairah?. Jika pilihan terakhir ini yang Anda lakukan, barangkali suatu saat sebuah impian membuat bisnis kelas dunia menjadi milik Anda.

Yah, itulah sebuah kisah nyata yang dialami oleh Howard Schultz, orang yang dianggap paling berjasa dalam membesarkan kedai kopi Starbucks. “Secangkir kopi satu setengah dolar? Gila!Siapa yang mau.Ya ampun,apakah Anda kira ini akan berhasil? Orang-orang Amerika tidak akan pernah mengeluarkan satu setengah dolar untuk kopi,”. Itulah sedikit dari sekian banyak cacian yang diterima Howard,saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks.

Petualangan Schultz dimulai pada tahun 1981, ketika ia melakukan perjalanan dari New York ke seattle untuk memeriksa sebuah toko biji kopi populer,Starbucks,yang telah memesan sejumlah besar tipe khusus pembuat kopi (coffemaker) dari Hammarplast-Swedia,tempat ia bekerja saat itu. Toko tersebut milik duo,Jerry Baldwin dan Gordon Bowker.Dia mencium kesuksesan besar dari toko itu,tapi apa yang menyebabkan dia jatuh cinta dengan bisnis ini adalah ketelitian dan kegairahan pemilik Starbucks dalam memilih dan memanggang biji kopi. Dia juga terkesan dengan dedikasi pemilik untuk mendidik masyarakat tentang keajaiban cita rasa kopi. Saat berjalan keluar dari toko itu,Howard berkata”Ya Tuhan! betapa besarnya perusahaan itu dan betapa menariknya kota ini,aku senang bisa menjadi bagian di dalamnya”.

Schultz dilahirkan pada 19 juli 1953. Dan dibesarkan di sebuah perumahan besar di Broklyn, New York. Dia merupakan anak dari mantan tentara Angkatan Darat Amerika yang kemudian menjadi sopir truk, Fred schultz, dan istrinya,Elaine.Schultz dewasa melarikan diri dari pikiran menjadi miskin pada olahraga seperti baseball,sepakbola,dan basket. Dia pergi ke Canarsie High School dimana ia lulus tahun 1971. Di sekolah menengah ia unggul di bidang olahraga dan mendapatkan beasiswa atlet ke Nothern Michigan University. Dia merupakan orang pertama dalam keluarganya yang pergi ke perguruan tinggi. Schultz menerima gelar sarjana komunikasi pada tahun 1975.

Butuh satu tahun bagi Schultz untuk meyakinkan pemilik Starbucks agar mempekerjakan ia.Akhirnya ia diterima sebagai manajer pemasaran dan operasional. Ia pun segera dekat dengan Jerry baldwin. Sayang, hal itu kurang berlaku dengan Gordon Bowker dan Steve, seorang investor Starbucks baru. Meski begitu Howard tetap berusaha beradaptasi dan mencoba mengenalkan pembaruan untuk membesarkan Strbucks.

Suatu ketika ia datang dengan ide cemerlang. Ide tersebut timbul saat ia mengunjungi Italia. Ia memperhatikan bar-bar kopi di setiap blok kota. Dia mempelajari bahwa mereka tidak hanya menawarkan espresso hangat tapi juga berfungsi sebagai tempat pertemuan publik. Tempat merekatkan komunitas masyarakat. Dan ada 200 juta lebih penduduk Italia.
Read the rest of this entry

Profil-Kegagalan Rumah Makan Idaman Dan Ida Taylor

Adalah Ida Ningsih seorang ibu rumah tangga yang berwirausaha dengan membuka rumah makan. Ia lahir di Karawang 41 tahun lalu. Ayahnya,H.Rohmat adalah seorang petani sedangkan ibunya,Hj.Suhaeni, seorang penjahit. Memilki lima adik serta menjadi anak sulung,membuatnya harus ikut membantu perekonomian keluarga. Sejak kecil Ia tertarik pada dunia tata boga dan tata busana. Saat berumur 17 tahun,Ia belajar menjahit pada ibunya dan belajar tata boga pada salah satu teman ibunya.
Ia mempunyai semangat tinggi dalam mencoba berbagai hal. Saat belajar menjahit pun,Ia mulai mencoba membuat beberapa model baju. Melihat bakat anaknya,Hj.Suhaeni membuatkan sebuah ruko untuk Ida. Dengan tujuan untuk menyalurkan bakat anaknya pada usaha. Akhirnya Ida mulai membuka jasa penjahitan baju dan penjualan baju siap jadi bernama Ida Taylor. Terkadang Ia pun menerima jasa pembuatan kue dan masakan sunda,namun ia tidak mencoba membuka usaha catering. Pada tahun 1979, Ia menikah dengan Maman Sanwani,seorang buruh asal Banten. Meski telah menikah, Ida tetap menjalankan usahanya.
Read the rest of this entry