Pak Nana

Sejak kecil Pak Nana sudah berkecimpung di dunia usaha. Ayahnya membuka usaha kecil-kecilan pembuatan kerupuk sangray di rumahnya. Ketika itu Pak Nana sering membantu usaha ayahnya baik dalam pembuatan maupun dalam pendistribusiannya. Hingga pada akhirnya, usaha kerupuk sangray milik ayahnya itu berkembang dan bias bertahan hingga sekarang.

Melihat usaha ayahnya berhasil, Pak Nana beserta istrinya mencoba untuk membuka usaha sendiri namun bukan usaha yang sama dengan ayahnya. Ia mencoba dengan membua usaha pengolahan singkong menjadi berbagai macam makanan ringan seperti keripik, cempring, dll. Pengolahan singkongnya ia lakukan sendiri bersama istri dan anak-anaknya. Sisa pengolahan singkong yang tidak diproduksi seperti kulit singkong, dia jual kembali ke pengumpul kulit singkong.

Pak Nana memberi nama usahanya itu dengan label ‘Manihot’. Dengan adanya label itu membuat usaha pengolahan singkongnya berkembang pesat, banyak pesanan dari luar daerah dan ia pun terkadang sering menerima pesanan dari berbagai kota di Jawa Barat. Ketika usahanya telah berkembang, Pak Nana tidak hanya bekerja sendiri, ia mulai merekrut beberapa pegawai untuk membantu usahanya.

Disisi lain, Pak Nana mempunyai keahlian seni, secara turun temurun keluarga Pak Nana memang memiliki keahlian dalam kesenian sunda seperti calung. Disamping usaha pengolahan singkong, Pak Nana pun membuat grup kesenian calung tersebut bersama rekan-rekannya. Grup ini terkadang diundang manggung di acara-acara pernikahan atau khitanan. Karena kesibukannya yang baru ini memaksa Pak Nana untuk membagi waktu dan tenaga antara usaha pengolahan singkong dan grup keseniannya.

Beberapa tahun usaha pengolahan singkongnya bertahan, hingga pada suatu saat usahanya goyah ketika pasokan singkong mulai berkurang karena keberadaan singkong di pasaran tidak sebanyak dulu, yang selanjutnya berimbas pada naiknya harga singkong.

Karena krisis tersebut, Pak nana pun memberhentikan pegawai-pegawainya dan kembali memperkerjakan keluarganya sendiri untuk menghemat pengeluaran. Pak Nana sudah beberapa kali mencoba mencari solusi untuk menutupi menurunnya omset pada usaha pengolahan singkongnya. Selain dengan manggung bersama grup keseniannya, ia pun mencoba membuka warung gorengan di pinggir jalan. Namun warung gorengan ini pun tak bertahan lama karena  kekurangan modal dan tenaga. Karena anak-anaknya pun sudah mulai bekerja di pabrik sebagai pegawai swasta.

Karena tidak ada lagi sokongan untuk usaha pengolahan singkongnya, akhirnya usaha pengolahan singkong Pak Nana ini pun berhenti dan sekarang Pak Nana hanya mengandalkan grup keseniannya, itupun dengan jadwal yang tidak jelas, karena sudah jarang acara-acara pernikahan atau khitanan yang mengundang grup kesenian calung Pak Nana.

Dari wacana diatas, dapat dianalisis bahwa karakter Pak Nana yang menyebabkan kegagalan usaha pengolahan singkongnya adalah:

  1. Tidak visioner, tidak memikirkan bagaimana usahanya kedepan
  2. Tidak fokus, tidak fokus pada usaha yang digeluti dengan membuat grup kesenian.
  3. Tidak kreatif, tidak memikirkan cara-cara lain yang lebih bisa menyokong usahanya.

Sumber : Asep Jaka Ramdhani

Iklan

About robiahadawiyah

IMPIAN,IMPIAN,DAN IMPIAN

Posted on Mei 15, 2011, in Kewirausahaan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: